Internasional

Kisah Warga AS Ini Bisa Jadi Refleksi Toleransi Beragama

Editor : Ferro Maulana |Kamis , 21 Februari 2013 - 02:57:45 WIB | Dibaca : 974 Kali |

Diskusi Anggota NewGround | Ist

@IRNewscom I Amerika: DALAM pertemuan kali ini, seorang dokter bedah syaraf Muslim menceritakan kepada kelompok itu bahwa ketika kecil ia yatim piatu, dan kemudian dibesarkan oleh sebuah keluarga Yahudi yang mendidiknya agar tetap beragama Islam.

Seorang perempuan Yahudi berbagi kenangan masa kecilnya tentang kakek neneknya yang berhasil menyelamatkan diri dari Holocaust di Eropa Timur. Ini semua dikisahkan dalam acara berbagi pengalaman yang diadakan kelompok NewGround.

Tanzila Ahmed, Muslimah dari Bangladesh, mengatakan, acara berbagi cerita itu membantu menjembatani perbedaan budaya. "Acara itu seperti kaledoskop cerita dan pandangan dari komunitas yang berbeda, dan lewat cara ini kita bisa benar-benar saling mendekatkan diri dengan lebih mudah, ujarnya.

Edina Lekoviv, yang bekerja untuk kelompok bantuan Muslim, mengatakan, konflik di Timur Tengah sampai ke Los Angeles dan bisa menciptakan tembok antara komunitas Yahudi dan Islam. Ia ikut mendirikan NewGround sebagai cara untuk mendekatkan kedua komunitas itu.

"Mereka tahu bagaimana saling mendekatkan diri. Mereka punya hubungan sejati, dan pada saat bersamaan, tidak terperangkap dengan apa yang terjadi di luar negeri, mereka malahan lebih tertarik dengan apa yang terjadi di Los Angeles ini," katanya lagi.

Setiap tahun, 20 profesional Muslim dan Yahudi diseleksi untuk ikut serta dalam program lintas agama ini. Program ini membantu mereka mendapatkan keterampilan, hubungan dan kontak yang diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana warga Muslim dan Yahudi saling mendekatkan diri di Amerika.

Peserta-peserta itu menghadiri dua pertemuan akhir minggu dan bertemu dua kali sebulan dari November 2012 sampai dengan bulan Juni 2013 untuk belajar saling mengenal baik di antara mereka maupun pemimpin-pemimpin komunitas.

Dalam pertemuan baru-baru ini, pemaparan sejarah Islam memicu pembahasan di kalangan peserta terbaru NewGround.

Rabbi Sarah Bassin, Direktur Eksekutif NewGround, mengatakan, banyak organisasi yang berupaya mempertemukan warga Muslim dan Yahudi, tetapi sedikit yang bisa mendekatkan mereka.

"Percakapan di antara mereka umumnya belum dimulai. Kami belum punya kosa kata yang tepat untuk duduk di meja yang sama dengan cara yang sama seperti yang telah diupayakan masyarakat Yahudi dan Kristen dalam 50 atau 60 tahun terakhir, khususnya dalam masa pasca-Holocaust," ujarnya.

Abbie Barash, anggota baru dari kelompok Yahudi, mengatakan, banyak bertemu teman baru di kelompok ini. Ia mengutarakan, "Kami menjadi dekat, walaupun baru saling mengenal sebulan ini. Ini sangat berarti bagi saya," terangnya.

Amir Abdullah, aktor Muslim, mengatakan, tetap ada perbedaan di antara kedua kelompok. "Muslim dan Yahudi tidak bisa sepakat dalam segala hal. Di antara Muslim juga banyak yang tidak sepakat dalam banyak hal. Tetapi, jika kita bisa berbagi pengalaman dan apa yang kita rasakan, kita sedikitnya bisa saling memahami, dan saya rasa itu sangat penting," ungkapnya.

Anggota-anggota NewGround berharap upaya-upaya untuk membina hubungan antara Muslim dan Yahudi ini akan menyebar jauh keluar Los Angeles, Amerika Serikat. [V-12]



BERITA LAINNYA :