Internasional

Ini Kisah Sedih Mualaf, Mantan Pendeta yang Kembali Dimurtadkan

Editor : Ferro Maulana |Jumat , 08 Maret 2013 - 01:08:52 WIB | Dibaca : 898 Kali |

Foto: Ist/Ilustrasi

@IRNewscom I Mesir: AHMAD Muhammad Al-Mahdi, yang sebelumnya bernama Michael Labib Michael mengungkapkan, kondisinya yang diburu oleh pihak Gereja semenjak 7 tahun untuk memurtadkannya dari Islam.

Mahdi mengatakan, bahwa salah satu dari dua puteranya menghilang semenjak Mei 2012 lalu dan belum diketahui nasibnya sampai sekarang.

Muhammad Al-Mahdi menghimbau kepada Presiden Muhammad Mursi, PM Hisyam Qindil dan Menteri Dalam Negri untuk membantu kembalinya putera Ahmad Muhammad Al-Mahdi atau mengetahui nasibnya.

“Saya pergi ke masyayekh Al-Azhar tujuh tahun lalu untuk menyatakan keislamanku. Kemudian aku dikagetkan dengan Pastur dari Gereja Ortodoks yang membawa koper berisi pound yang ia berikan kepada saya agar kembali ke agama Kristiani dan tidak masuk Islam. Tapi saya tidak mengucapkan sepatah kata kecuali qul huwallahu ahad Allahus Shomad lam yalid wa lam yulad wa lam yakun lahu kufuwan ahad. Maka merah lah wajah sang Pastur dan menghinaku” tutur Al-Mahdi kepada harian Al-Masriyyun, Rabu (06/03), demikian dikutip dari VOA Islam.

“Saya mendapatkan sertifikat keIslaman saya dari Syaikh Al-Azhar," ungkap pria paruh baya tersebut. Sejak itu, ia mendapatkan ujian terus.

Kini, Ia dikejar – kejar oleh pihak Gereja dan ia juga mendapatkan intimidasi fisik yang tidak hanya sekali dua kali.

Kedua puteranya pun, Muhammad dan Islam, ditangkap oleh petugas keamanan Negara saat keluar dari Masjid. Mahdi mengatakan, bahwa penangkapan anaknya itu karena tekanan pihak Gereja kepadanya.

Sekedar diketahui, Putera Mahdi Hilang Selama Semenjak Bulan Mei 2012 lalu. Setelah itu anaknya Muhammad bebas dan kembali bekerja. Pada pukul 17:00 sore waktu setempat, (25/05) lalu, Muhammad menelpon sang ayah akan kembali setengah jam lagi. Mahdi dan iternya menunggu sang putera.

Ternyata Muhammad tak kunjung datang. Mahdi pun menghubunginya. Namun telepon Muhammad tidak aktif. Maka, Ahmad Al-Mahdi pergi ke tempat anaknya bekerja untuk memastikan kondisi Muhammad.

Sesampainya di tempat kerja, rekan–rekannya mengatakan, bahwa Muhammad mengajukan pengundurandiri dan pergi ke Saudi.

Mahdi pun bertanya–tanya, bagaimana mungkin dalam waktu setengah jam ia pergi ke luar negri. Dan bagaimana mungkin dia pergi ke luar negri sedangkan ia belum mendapatkan visa dari kedutaan Saudi.

Mahdi pun menduga bahwa anaknya ditangkap pihak gereja dan belum diketahu nasibnya sampai sekarang. [V-Islam, dbs-12]



BERITA LAINNYA :