Kesehatan

Preeklampsia Apa Itu? Kenali Gejala, Penyebab & Mengobati Preeklampsia

Editor : Ferro Maulana |Rabu , 19 Juni 2013 - 04:37:43 WIB | Dibaca : 2778 Kali |

Preeklampsia | Ist

@IRNewscom I Jakarta: PREEKLAMPSIA dapat diartikan sebagai kondisi tekanan darah tinggi dan kelebihan protein dalam urin setelah 20 minggu kehamilan, yang biasa terjadi pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal.

Bila Preeklampsia tidak tertangani dengan baik, maka dapat menyebabkan kondisi yang serius, bahkan fatal bagi penderitanya maupun bayi yang dikandung.

Maka bagi Anda, khususnya wanita yang sedang mengandung wajib mengetahui gejala, penyebab, dan cara menangani (mengobati) preeklampsia.

Berikut penjelasan lengkap tentang Preeklampsia: 

Gejala atau Tanda-tandanya

Preeklampsia seringkali terjadi secara tiba-tiba setelah kehamilan memasuki usia 20 minggu dengan disertai gejala atau tanda, sebagai berikut :
1. Tekanan darah tinggi ( di atas 140/90 mmHg)
2. Kelebihan protein dalam urin (proteinuria)
3. Sakit kepala
4. Mual dan muntah
5. Pembengkakan, terutama di sekitar wajah dan tangan
6. Nyeri perut bagian atas, biasanya di bawah rusuk pada sisi kanan
7. Kenaikan berat badan secara drastis

Penyebab atau Faktor Resiko

Hingga kini belum dapat secara pasti diketahui penyebab preeklampisa, namun beberapa faktor resiko ini kemungkinan mempengaruhi, seperti:
1. Memiliki riwayat keluarga dengan preeklampsia dan penyakit kardiovaskular (pembuluh darah dan jantung)
2. Kehamilan pertama
3. Kehamilan pada usia kurang 20 tahun atau di atas 40 tahun
4. Obesitas
5. Hamil bayi kembar
6. Diabetes, termasuk diabetes gestasional
7. Memiliki riwayat kesehatan, seperti tekanan darah tinggi kronis, sakit kepala migrain, diabetes, penyakit ginjal, rheumatoid arthritis atau lupus.

Cara Diagnosis

Preeklampsia pada umumnya dapat diketahui saat pemeriksaan tekanan darah dan urin yang dilakukan pada saat prenatal check up secara rutin selama masa kehamilan.

Selain itu untuk memastikan diagnosis preeklampsia, biasanya dokter merekomendasikan pemeriksaan penunjang lainnya, seperti pemeriksaan darah dan urin, USG, serta uji nonstress (memeriksa detak jantung bayi saat bergerak) atau profil biofisik (memeriksa pernapasan, nada, dan gerakan bayi, serta volume cairan ketuban di dalam rahim).

Terapi dan Pengobatan

Selain persalinan, dokter mungkin merekomendasikan tindakan penanganan preeklampsia dengan pemberian obat antihipertensi, kortikosteroid dan antikonvulsive.

Pencegahan

Cara terbaik untuk menjaga kesehatan selama kehamilan adalah dengan melakukan prenatal check up sedini mungkin dan secara teratur.

Komplikasi

Preeklampsia dapat menyebabkan komplikasi di antaranya :
1. Terganggunya aliran darah ke plasenta sehingga bayi akan kekurangan asupan nutrisi yang dapat menghambat pertumbuhan janin, serta mengakibatkan bayi lahir prematur, berat badan rendah, dan kesulitan bernafas.
2. Plasenta terlepas dari dinding dalam rahim sebelum persalinan hingga dapat mengancam jiwa penderita dan bayi yang dikandungnya.
3. Sindrom HELLP (hemolisis, peningkatan enzim hati dan rendahnya trombosit) dapat mengancam jiwa penderita dan bayi yang dikandungnya.
4. Eklampsia yang disertai kejang secara permanen dapat merusak organ vital (otak, hati dan ginjal) hingga menyebabkan koma dan kematian pada penderira dan bayi yang dikandungnya.
5. Meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular di masa mendatang. [Konsuldokter-12]



BERITA LAINNYA :