Kronik

Wow... 1.000 Petugas PT Sari Lembah Subur Bertugas Tanpa Gaji

Editor : Djono W. Oesman |Sabtu , 25 Mei 2013 - 00:23:58 WIB | Dibaca : 1130 Kali |

Kebun sawit PT Sari Lembah Subur di Palalawan, Riau.

IRNewscom | Pekanbaru: PRODUSEN CPO (Cruide Palm Oil) PT Sari Lembah Subur (SLS) di Kabupaten Palalawan, Riau, punya petugas kebun sawit yang sama sekali tak digaji. “Hebatnya, dia siap bertugas sampai mati,” kata Administratur PT SLS, Nyoman Pande Sutantra di kebun sawit di Palalawan, akhir pekan ini.

Kok bisa? “Ya, karena petugas itu adalah sepasang burung hantu yang tugasnya memangsa tikus di kebun sawit kami. Hasil dari tugas yang mereka lakukan, produksi PT SLS jadi lebih efisien,” jawab Pande.

Dijelaskan, tikus tergolong hama buah sawit. Hebatnya, meskipun pohon sawit tingginya lebih dari 10 meter, namun tikus selalu mengetahui jika ada buah sawit yang matang di atas pohon. Sebab, buah sawit yang matang, sebagian buahnya berjatuhan ke tanah. Dari buah yang jatuh itulah tikus tahu bahwa di puncak pohon ada makanan.

“Sebelum kami menggunakan jasa burung hantu, setiap pohon yang buahnya matang, selalu saja sebagian buahnya dimakan tikus. Sebab, buah sawit rasanya manis,” tutur Pande.

Berapa persen tingkat kerusakan buah? “Sekitar 2 persen dimakan tikus. Tapi. Jika kami terlambat memanen, tentu buahnya bisa habis,” jawabnya. Padahal, satu pohon biasanya menghasilkan 2 sampai 3 bongkol buah sawit. Satu bongkol beratnya sekitar 20 kilogram, termasuk sabut dan pelepah yang menyatu dengan buah.

Setelah dilakukan penelitian, diketahui bahwa burung hantu jenis Tito Alba adalah pemangsa tikus yang paling andal. Burung ini di malam hari bisa mengetahui gerakan tikus di tanah dari jarak lebih dari 100 meter. Dan, sergapan Tito Alba terhadap tikus selalu akurat. Sambil terbang menukik dari atas pohon, dia bisa menyambar tikus yang lari di tanah atau memanjat pohon sawit.

“Akhirnya kami gunakan jasa Mas Tito Alba ini,” ujar Pande ketawa. Hasilnya luar biasa. Tidak ada buah sawit yang dimakan tikus.

Kendati begitu, tikus tetap ada di kebun sawit. Hanya saja, tidak memakan sawit. Mereka sembunyi di semak-semak. Sebab, begitu mereka naik ke pohon, gerakannya langsung terpantau Tito Alba, dan langsung disambar. “Jadi, jumlah tikus seimbang, yang penting tidak memakan buah sawit,” katanya.

PT SLS menyediakan rumah Tito Alba dari kotak kayu yang diberi tiang setinggi sekitar 10 meter di tengah kebun. Satu rumah dihuni sepasang Tito Alba. Jika siang mereka tidur. Malamnya mereka berburu tikus. Rumah Tito Alba ada di setiap radius 30 hektar. “Seluas itulah jarak jelajah Tito Alba,” ujar Pande.

PT SLS yang merupakan anak perusahaan PT Astra Agro Lestari (Astra International Group) menguasai 15.000 hektar kebun sawit di Kabupaten Palalawan. Maka, tak kurang 500 pasang (seribu burung) Tito Alba yang setiap malam bertugas untuk PT SLS.

SLS memiliki 2 pabrik penghasil CPO. Pabrik 1 menghasilkan 60 ton CPO per jam, sedangkan pabrik 2 memproduksi 30 ton per jam.

Jika dengan adanya Tito Alba perusahaan menghemat 2 persen buah sawit yang mestinya dimakan tikus, maka efisiensi itu luar biasa besar. Yakni, hampir 2 ton CPO yang mestinya hilang per jam, akibat buah sawit dimakan tikus. (dwo)



BERITA LAINNYA :