Kolom

Bila Pengidap Lupus dan AIDS Bertemu

Editor : Berto Riyadi |Senin , 25 Maret 2013 - 11:28:57 WIB | Dibaca : 544 Kali |

Ilustrasi.

IRNewscom | Jakarta: APA jadinya jika para pengidap HIV/AIDS bersatu dengan pengidap Lupus dalam suatu forum diskusi? Ternyata seru. Masing-masing pihak menyuarakan bahwa pemerintah sudah seharusnya memperhatikan para pengidap dua penyakit yang ditakuti banyak orang itu.

Begitulah suasana Talk Show Serba Serbi Lupus yang digelar Yayasan Lupus Indonesia (YLI) dengan Laboratorium Klinik Prodia di Prodia Tower, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (23/03).

Uniknya, acara itu menampilkan pembicara tunggal pakar Lupus dan AIDS, Prof dr Zubairi Djoerban Sp PD – KHOM. Prof Zubairi tidak berpihak pada salah satunya, melainkan ia menjawab semua pertanyaan peserta seputar Lupus dan AIDS.

Dua kelompok itu bernauh di bawah lembaga swadaya masyarakat bidang kesehatan yang berbeda. Orang dengan HIV/AIDS (Odha) di bawah Yayasan Pelita Ilmu dengan koordinator Tika. Sedangkan Orang dengan Lupus (Odapus) bernaung di bawah YLI dengan koordinator Tiara Savitri.

Soal perhatian pemerintah, cenderung mengutamakan pada LSM Odha dibanding Odapus. Berbagai kegiatan dan fasilitas pemerintah diberikan kepada LSM yang menaungi Odha. Sedangkan Odapus kurang mendapat perhatian. “Jangankan bantuan langsung (kecuali Askes, Jamkesmas, Kartu Sehat kepada penderita) kantor kami saja (YLI) dipinjami oleh RS Kramat, Jakarta,” kata Humas YLI Eva Meliana.

Padahal, dua kelompok ini memiliki penyakit yang mirip: Sama-sama terkait kekebalan tubuh (anti body). Pada Odha, anti body sangat lemah, bahkan tidak berperan. Sedangkan Odapus sebaliknya, anti body terlalu aktif sehingga menghajar organ tubuh.

Pada Odha menular melalui hubungan seksual dan transfuse darah, sedangkan Odapus tidak menular.

Eva menyatakan, manfaat sharing kemarin adalah berbagi semangat,saling menguatkan bahwa Odapus takkan melakukan diskriminasi terhadap sahabat sahabat Odha.

“Kami sedikit banyak bisa merasakan bagaimana rasanya dibedakan dalam konotasi negatif. Adanya sharing sesama survivor juga bisa memotivasi untuk memandang positif terhadap diri sendiri sehingga perasaan positif mendorong kita,” katanya. (dwo)



BERITA LAINNYA :