Kronik

Produsen CPO Bukan Perusak Lingkungan

Editor : Berto Riyadi |Jumat , 24 Mei 2013 - 23:04:45 WIB | Dibaca : 2759 Kali |

Buah sawit yang baru dipanen dari pohonnya.

IRNewscom | Pekanbaru: BENARKAH produsen CPO (Cruide Palm Oil) mencemari lingkungan seperti yang dikhawatirkan LSM? Berikut ini penjelasan Administratur PT Sari Lembah Subur, Nyoman Pande Sutantra di kantornya di Kabupaten Palalawan, Riau, akhir pekan lalu.

“Memang benar, jika limbah padat sawit dibakar, maka terjadi pelepasan hydrocarbon ke udara yang berpotensi mencemari lingkungan,” kata Pande. “Tapi, PT Sari Lembah Subur tidak membakar limbahnya, melainkan kami olah menjadi pupuk.”

PT SLS merupakan anak perusahaan PT Astra Agro Lestari (Astra International Group). Perusahaan ini memiliki dua pabrik penghasil CPO di Palalawan. Pabrik 1 memproduksi 60 ton CPO per jam, pabrik 2 memproduksi 30 ton per jam. Perusahaan ini menguasai sekitar 15 ribu hektar lahan sawit di Palalawan yang sebagian (sekitar 27 persen) milik petani lokal.

Selama ini LSM lingkungan, baik tingkat internasional seperti Green Peace maupun LSM sejenis di tingkat domestik, sibuk memprotes produsen CPO. Mereka meneriakkan protes bahwa pelepasan zat hydrocarbon berpotensi menimbulkan pemanasan global.

Dijelaskan Pande, partikel dalam tumbuhan seperti batang kayu, ranting, pelepah buah, jika dibakar menimbulkan pelepasan hydrocarbon yang berpotensi merusak lingkungan. “Sedangkan jika tidak dibakar, melainkan lapuk dengan sendirinya, juga menimbulkan pelepasan hydrocarbon. Tapi, pelepasannya secara bertahap, tidak langsung seperti hasil pembakaran,” tuturnya.

Jika limbah padat tanaman sawit dibiarkan tergeletak di tanah, juga mengalami pelapukan yang berarti terjadi pelepasan hydrocarbon secara bertahap. “Nah, limbah padat PT SLS kami olah menjadi pupuk. Dimana letak pencemarannya?” katanya.

Green Peace Hanya Bisa Koar-koar

LSM lingkungan hidup Green Peace yang dikenal galak mengkritisi pencemaran lingkungan, memang pernah mengkritisi PT SLS. “Mereka bicara tentang pencemaran lingkungan di Pekanbaru. Tapi, ketika mereka kami ajak melihat langsung ke Palalawan, mereka menolak,” katanya.

Mestinya pihak Green Peace tertarik untuk melihat langsung, bagaimana proses pengolahan sawit menjadi CPO di PT SLS di Kabupaten Palalawan. Namun, dengan penolakan ajakan dari pihak PT SLS itu, dinilai bahwa Green Peace hanya berkoar-koar, tanpa ingin melihat bukti. (dwo)



BERITA LAINNYA :