Sainstek

Zuckerberg Akui Facebook Salah Terkait Proteksi Data Pengguna

Editor : Damar Pamungkas |Kamis , 22 Maret 2018 - 09:03:28 WIB | Dibaca : 371 Kali |

Mark Zuckerberg. Foto: IDNTimes

@IRNews | Mark Zuckerberg mengakui Facebook "membuat kesalahan" dalam melindungi data pengguna. Lalu mengumumkan serangkaian perubahan dalam media sosial ini akibat skandal Analytica Cambridge.

Dilansir dari Reauters, Zuckerberg mengatakan Facebook kini akan memberlakukan aturan ketat pada pengembang aplikasi pihak ketiga yang mengumpulkan data pengguna FB. Mereka akan membuat layanan baru yang akan membuah Anda bisa mereview aplikasi yang Anda gunakan.

"Banyak yang harus dilakukan, dan kami perlu bertindak dan melakukannya," kata Zuickerberg dalam pernyataannya Kamis (22/3/2018) pagi ini.

Facebook membekukan aplikasi Cambridge Analytica pekan lalu. Tuduhannya, perusahaan riset politik itu tetap mengambil data pengguna FB secara tidak benar, padahal mereka menyatakan telah menghapusnya.

Data tersebut dikumpulkan oleh akademisi Universitas Cambridge, Aleksandr Kogan melalui aplikasi survei di Facebook beberapa tahun lalu. kemudian diteruskan ke Cambridge Analytica, yang menggunakannya untuk menargetkan pengguna FB dengan iklan politik selama kampanye Pilpres AS 2016.

Sekitar 300.000 pengguna FB yang menanggapi kuis Kogan itu. Namun hal ini memberi dia akses ke daftar teman FB para pengguna itu, yang mungkin tidak setuju berbagi informasi. Diperkirakan sekitar 50 juta pengguna FB terdampak.

"Ini pelanggaran kepercayaan antara Kogan, Cambridge Analytica dan Facebook," kata Zuckerberg.

"Tetapi itu juga merupakan pelanggaran kepercayaan antara Facebook dan orang yang berbagi data mereka dengan kami. Dan mereka mengharapkan kami untuk melindunginya," katanya.

Jadi apa yang akan dilakukan Facebook mengenai hal ini? Zuckerberg mengumumkan bahwa Facebook akan:

Membuat seksi baru di bagian atas Lini Masa FB Anda. Menunjukkan aplikasi yang Anda gunakan dan memungkinkan Anda menghapusnya.

Kurangi jumlah data yang Anda berikan kepada setiap aplikasi saat Anda membukanya hanya dengan nama, foto profil dan alamat email

Juga, secara otomatis mencabut akses pengembang aplikasi ke data Anda jika tidak menggunakan aplikasi mereka selama tiga bulan.

Selidiki semua aplikasi pihak ketiga yang mengumpulkan data dalam jumlah besar sebelum 2014 (ketika FB memberlakukan pembatasan seberapa banyak suatu aplikasi dapat mengakses data) dan melakukan audit penuh pada setiap aplikasi yang menunjukkan aktivitas mencurigakan.

Identifikasi setiap pengembang aplikasi yang menyalahgunakan informasi dan menyampaikannya jika Anda menggunakan aplikasi itu.

Minta pengembang aplikasi untuk mendapatkan persetujuan sebelum mengakses postingan dan data pribadi Anda

Zuckerberg sendiri kini menghadapi desakan untuk datang ke penyelidikan Parlemen Inggris terkait pelanggaran ini. Juga berada dalam krisis sejak gerakan #DeleteFacebook bermunculan di Twitter.

Sejak munculnya tuduhan ini akhir pekan lalu, perusahaan raksasa medsos ini kehilangan lebih dari $ 45 miliar (sekitar Rp 450 triliun) dari nilai sahamnya. Para analis mengatakan hubungan FB dengan para pengiklan kini mungkin dalam masalah.

Zuckerberg mengatakan: "Meskipun masalah yang melibatkan Cambridge Analytica seharusnya tidak lagi terjadi dengan aplikasi baru hari ini, hal itu tidak mengubah apa yang terjadi di masa lalu,"

"Kami akan belajar dari pengalaman ini untuk mengamankan platform kami lebih lanjut dan membuat komunitas kami lebih aman ke depan," ujarnya.

Tanggapan Cambridge Analytica

Pada Selasa pekan ini, direksi Cambridge Analytica memberhentikan CEO Alexander Kogan, yang dalam rekaman rahasia ketahuan membual bahwa perusahaannya berperan menentukan dalam kemenangan Trump sebagai Presiden AS.

Tetapi Kogan membantah hal itu dalam wawancara dengan BBC pada hari Rabu.

"Saya pikir yang Cambridge Analytica coba tawarkan adalah sihir, dan mereka mengklaim bahwa hal ini sangat akurat dan memberi tahu Anda semua yang perlu diceritakan tentang Anda. Tapi saya kira kenyataannya bukan itu," katanya.

Kogan mengatakan bahwa dia dijadikan kambing hitam oleh Facebook dan Cambridge Analytica, karena kedua perusahaan telah menyalahkannya atas dugaan penyalahgunaan data. (*)



BERITA LAINNYA :