Hiburan

Duh... Manisnya Zahra Sekarang, Tapi... Ali kok Jadi Jelek?

Editor : Damar Pamungkas |Minggu , 25 Maret 2018 - 23:48:59 WIB | Dibaca : 318 Kali |

Bahare Seddiqi, pemeran Zahra, dulu dan kini. Foto: Ilustrasi DWO

@IRNews | 1997 Iran memproduksi film Bacheha-Ye aseman. Sangat inspiratif. Jadi box office dunia, berjudul Children of Heaven. Meraih berbagai penghargaan internasional. Diterjemahkan ke puluhan bahasa. Di Indonesia pun 'meledak'.

Film yang mengharu-biru. Berkisah tentang kakak-adik Ali (diperankan Amir Farrokh Hashemian) dan Zahra (diperankan Bahare Seddiqi). Ali usia 15, Zahra 14. 

Mereka anak tukang kebon yang miskin. Ayahnya, Karim, pengurus masjid (marbot). Kadang jadi tukang kebon freelance. Keliling naik sepeda mendatangi rumah-rumah mewah, menawarkan jasa potong rumput.

Ali dan Zahra giat sekolah. Dengan sarapan seadanya, pakaian sederhana, perlengkapan sekolah minim, mereka gigih belajar. Ali paham kemiskinan keluarganya. Kehidupan sehari-hari benar-benar garing.

Dari setting cerita itu, kerangka suasana haru terbentuk. Haru bukan karena kemiskinan, melainkan perjuangan hebat si miskin.

Misalnya, di hari libur sekolah Ali ikut ayahnya keliling naik sepeda, cari pekerjaan ke rumah-rumah mewah. Digonggongi anjing. Diabaikan orang.

Akhirnya, mereka dapat juga pekerjaan dari rumah mewah yang dihuni pria tua dan seorang cucunya. Mereka menerima tawaran Karim, memotong rumput.

Ternyata, pria tua itu memberi pekerjaan Karim, hanya supaya cucunya ada teman (Ali). 

Fokus kisahnya ada di sepatu Zahra. Sudah jelek dan direparasi (sol) di pasar. Selesai di-sol, sepatu diambil Ali di pasar, dibungkus tas plastik kumal. Sekalian, Ali disuruh ibunya belanja di pasar itu.

Supaya tidak ribet, Ali menyelipkan bungkusan sepatu itu di celah dagangan kaki lima. Sementara, dia masuk pasar belanja pesanan ibunya.

Ketika Ali hendak mengambil sepatunya, ternyata sudah hilang. Diambil pemulung. Dia sedih banget. Akting sedih Ali luar biasa, natural. Dia sampaikan ke Zahra, dan Zahra menangis.

Zahra berniat melaporkan ke ayahnya. "Biar dibelikan sepatu baru," katanya.

Kontan, Ali mencegah. Dia beritahu adiknya, bahwa keluarga mereka miskin. Kasihan ayah, tidak akan mampu membeli sepatu baru. 

Ali menemukan solusi: Jika mereka sekolah, Zahra pakai sepatu Ali. Karena sekolah Zahra masuk pagi. Siangnya, Ali sekolah gantian pakai sepatu itu juga.

Repotnya, sekolah mereka berjauhan. Sehingga Ali setiap siang menunggu di suatu gang. Menunggu Zahra lewat, sepulang sekolah. Ali berpesan, Zahra harus secepatnya meninggalkan sekolah.

Begitu mereka bertemu di ujung gang, Ali langsung memakai sepatu itu. Estafet. Lantas Ali berlari ke sekolah agar tidak terlambat. Walaupun sering terlambat juga.

Sepatu satu-satunya itu pun kecebur kali, saat dipakai Zahra. Karena longgar. Untungnya, bisa Zahra bisa mengejar sepatu yang terhanyut sungai. Jadinya, sepatu jelek semakin kumal sebelah.

Suatu hari ada lomba lari. Hadiahnya sepatu. Juara satu dan dua sepatu pria, juara tiga sepatu karet wanita yang cantik.

Ali ikut lomba. Nyaris terlambat daftar, gara-gara gurunya tidak suka pada Ali yang sering terlambat sekolah. Padahal, Ali terlatih lari cepat setiap berangkat sekolah.

Ali berharap juara tiga. Sepatu cewek untuk adiknya. 

Ternyata dia juara satu. Ali kecewa berat. Sedih, tidak bisa meraih sepatu cewek untuk Zahra.

Children of Heaven film inspiratif. Ada empat nilai yang dipetik dari film ini. Pertama, kejujuran. Kedua, temukan solusi masalah. Ketiga, berguna bagi orang lain. Keempat, kejar prestasi maksimal.
 
Kini, apa kabar para pemeran filmnya? Tentu mereka sudah dewasa. Tapi, ternyata bagi pemeran Ali dan Zahra, itulah satu-satunya film mereka.

Mereka berkarya hanya sekali, dan sangat sukses. Setelah dewasa, mereka tenggelam dengan pekerjaan masing-masing.

Begitu juga negara mereka, Iran, tidak lagi memproduki film seterkenal Children of Heaven. (*)



BERITA LAINNYA :