Nasional

Fadli Zon: Indonesia Bisa Kacau Jika Dipimpin Jokowi Lagi

Editor : Damar Pamungkas |Senin , 09 April 2018 - 13:40:20 WIB | Dibaca : 6268 Kali |

@IRNews | Jakarta - Perang pernyataan menyambut Pilpres 2019 terus berlanjut. Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon mengatakan, masyarakat berhak mengekspresikan keinginan dengan pakai kaos bertulisan "GantiPresiden2019". Fadli juga mengatakan, Indonesia bisa kacau jika dipimpin Presiden Jokowi lagi.

Fadli bahkan mengaku, ingin segera memakai kaos tersebut bila memilikinya.

‎‎"Ya kalau soal itu kan hak dari masyarakat. Saya juga kalau ada kaosnya segera saya pakai itu kaosnya," katanya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, (9/4/2018).

Menurut Fadli, partainya sangat setuju dengan keinginan mengganti presiden yang dieksepreskan melalui ‎tagar #GantiPresiden2019. Karena bagi Gerindra, Indonesia bisa kacau bila Joko Widodo kembali terpilih dalam Pemilu presiden mendatang.

"Bagi kami di Gerindra pasti setuju 100 persen harus ganti presiden. Kalau engga ya kita kacau ini Indonesia kedepan secara ekonomi, ya karena kebijakan-kebijakan itu tidak pro rakyat dan bukan ekonomi kerakyatan," katanya.

Fadli mencontohkan kebijakan pemerintahan Jokowi ‎mengenai tenaga kerja. Pada saat masyarakat Indonesia membutuhkan lapangan kerja yang luas, pemerintah justru membuka keran tenaga kerja asing di Indonesia.

Padahal seharusnya pemerintah melakukan proteksi terhadap ekspansi tenaga kerja asing di Indonesia.

‎"Itu salah satu kebijakan yang sangat ironis. dan menurut saya ini tidak pro rakyat. dan saya kira serikat-serikat pekerja, yang saya tahu itu melakukan protes terhadap aturan ini. Seharusnya ketika kita kuat ya kita boleh saja ekspansif kebijakan itu. ketika kita lemah kita harusnya protektif," katanya.

Selain itu dalam masalah pangan. Fadli mengatakan Indonesia harusnya melakukan proteksi dengan tidak melakukan impor ketika kondisi pangan sedang lemah. Pemerintah harus memproteksi petani dengan menyuplai sejulah bantuan untuk meningkatkan produksi.

‎"Jadi kalau misalnya dalam sebuah persaingan pangan itu kita ini lagi lemah ya kita harus protektif pada petani kita, tidak boleh impor. Tapi ketika kita lagi kuat, produksi lagi naik-naiknya kita harus ekspansif membuka akses pasar diluar supaya menerima produk dari Indonesia," katanya. (*)



BERITA LAINNYA :