Hiburan

Soal Putin, PSI Akhirnya Bertemu Perwakilan Kedubes Rusia

Editor : Damar Pamungkas |Rabu , 11 April 2018 - 16:35:38 WIB | Dibaca : 1764 Kali |

NNC/Adiel Manafe Sekretaris Pertama Kedubes Rusia Sergey Drobyshevskiy, memenuhi undangan Partai Solidaritas Indonesia.. Foto Antara

@IRNews | Jakarta - Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Georgievna Vorobieva, diwakili Sekretaris Pertama Kedubes Rusia Sergey Drobyshevskiy, memenuhi undangan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Rabu (11/4/2018).

Kedatangannya disambut Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia, Raja Juli Antoni dan Ketua DPP PSI Tsamara Amany di Kantor DPP PSI, Jalan Wahid Hasyim, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Undangan ini terkait kritik Tsamara  terhadap pernyataan Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang menyebut Indonesia membutuhkan pemimpin seperti Presiden Rusia Vladimir Putin. Sehingga Tsamara mendapat sorotan dari sejumlah pihak, termasuk media Rusia.

"Berapa hari lalu kami mengirim surat undangan resmi untuk ibu Dubes datang kesini. Tapi karena waktu undangan singkat, ibu juga baru datang ke Indonesia, sehingga masih banyak pertemuan dengan Menteri. Ibu tidak bisa datang dan hari ini Bapak Sergey yang mewakili," kata Antoni di lokasi.

Pada kesempatan tersebut, Antoni mengaku sempat menjelaskan kepada perwakilan Kedubes Rusia soal PSI sebagai partai baru yang diisi oleh kader muda yang modern dan optimis.

"Tadi di atas saya menyampaikan pada beliau, PSI ini adalah partai baru, anak muda yang modern yang optimis akan masa depan Indonesia dan juga dunia. Dan opitimisme itu makin kuat jika ada kerja sama, saling menguntungkan satu negara dengan yang lain untuk kesejahteraan kedamaian dunia, dengan kepentingan kemanusiaan yang lainya," tandasnya.

Adapun pertemuan antara PSI dan perwakilan Kedubes Rusia ini berlangsung tertutup. Ketiganya tampak terlibat obrolan hangat sebelum dan sesudah pertemuan.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, yang membanggakan Vladimir Putin, dengan menyebut bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin seperti Presiden Rusia itu yang berani, visioner, cerdas, dan bukan planga plongo serta banyak utang.

Pernyataan Fadli itu mendapat kritik dari Tsamara. Ia menyatakan Indonesia tak butuh sosok seperti Putin. Alasannya, dari indeks persepsi korupsi Rusia yang di bawah Indonesia hingga tak ada demokrasi di Rusia di bawah kepemimpinan Putin.

Kritik Tsamara ini dibalas satu media Rusia, yaitu RBTH. Lewat akun Facebook-nya, RBTH menganggap Tsamara dangkal wawasan soal Rusia dan harus lebih banyak belajar lagi soal negara beruang merah tersebut. (*)



BERITA LAINNYA :