Nasional

Genderang Perang Pilpres Ditabuh, Awas Disusupi Radikalis

Editor : Damar Pamungkas |Kamis , 12 April 2018 - 09:39:58 WIB | Dibaca : 381 Kali |

@IRNews | Jakarta - Pengamat politik senior Arbi Sanit mengatakan, genderang perang Pilpres 2019 sudah ditabuh. Kondisi ini wajar menjelang kontestasi politik. Tapi, masyarakat harus waspada. Jangan terpengaruh hasutan.

Arbi menilai, tagar #2019GantiPresiden sejak awal kemunculannya April ini sekarang marak. Hal itu dinilai sebagai upaya untuk menunjukkan kelemahan pemerintah saat ini.

Menurutnya, hal ini lumrah jelang Pilpres 2019, demi merebut opini publik. Pihak oposisi sengaja mengangkat kelemahan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dinilai belum cukup baik dan tidak populer.

“Masyarakat tidak perlu kaget lagi jika ada wacana kontroversial mengangkat kelemahan pemerintahan saat ini. Sejak pernyataan dari sumber fiksi bahwa 2030 Indonesia bubar, menandakan sudah ditabuhnya genderang perang Pemilu Presiden 2019 yang sangat sengit,” kata Arbi, Kamis (12/4/2018).

Menurutnya, masyarakat perlu obyektif dalam menilai segala wacana yang ada di media sosial, apakah benar atau tidak. Aparat penegak hukum juga harus tegas bertindak mengontrol hoaks yang diduga digulirkan untuk menggiring opini publik.

“Perlu diwaspadai juga masuknya kaum radikal yang mengambil kesempatan dalam isu jelang Pilpres 2019. Jangan kaget bila aksi massa akan semakin sering dilakukan untuk menggiring opini publik di tengah tahun politik,” ulasnya.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menyebutkan, kemunculan #2019GantiPresiden merupakan aspirasi yang didengungkan oleh pihak-pihak yang tidak puas dengan pemerintahan.

Meski demikian, selama berdasarkan pada fakta dan pendapat, maka wacana tersebut merupakan bagian dari kebebasan berpendapat, karena menyangkut pemikiran masing-masing personal dan bagian dari demokrasi.

“Kalau kita runtut sumbernya, datang dari yang anti dengan Jokowi. Beda boleh, tapi jangan sampai ada kekerasan dan kebohongan. Ke depan medium hasil kontestasi politik akan ditentukan oleh masyarakat Indonesia saat mencoblos Presiden pilihannya tahun depan,” paparnya. (*)



BERITA LAINNYA :