Nasional

Beginilah Konstelasi Jokowi Gandeng Prabowo sebagai Cawapres

Editor : Damar Pamungkas |Sabtu , 14 April 2018 - 13:29:13 WIB | Dibaca : 554 Kali |

Presiden Jokowi dan Prabowo.

@IRNews | Jakarta - Ketua Umum PPP Romahurmuziy menyatakan niat Presiden Jokowi menggandeng Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto belum direstui partai koalisi. Hanya Romi (sapaannya) yang setuju.

Romi mengaku, beberapa waktu lalu Jokowi sempat menanyakan kepadanya, ide untuk menggandeng Prabowo sebagai cawapres kepadanya. 

Romi langsung menyetujui usulan tersebut tanpa berkonsultasi dengan siapa pun. "Agak kaget Pak Jokowi memang menanggapi jawaban saya. Tapi waktu itu saya pilih untuk menyetujui segera," katanya.

Kenapa? Pertama akan ada aklamasi nasional. "Karena semua survei kalau Jokowi-Prabowo bersatu maka di atas 70 persen," ujar Romi di sela Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama PPP, di Hotel Patra, Semarang, Jumat (13/4/2018). 

"Kedua, sumber daya untuk bertengkar berkelahi, mencaci, menghina selama 8 bulan ke depan sejak bulan Agustus sampai April nanti, tidak terjadi sehingga bangsa ini utuh," lanjut dia. 

Namun, ide tersebut, sambung Romi, belum disambut positif oleh ketua umum parpol lain yang sudah mendeklarasikan Jokowi sebagai capres. Beberapa dari mereka masih meminta waktu untuk memikirkan jawaban ihwal ide tersebut. 

Selain itu, kata Romi, hanya 10 persen relawan Jokowi yang setuju bila Jokowi bersanding dengan Prabowo di Pilpres 2019. 

"Maka kemudian saya tanya, bapak sendiri nyamannya bagaimana?" kata Romi, bertanya pada Jokowi.  

Jawaban Jokowi kepada Romi demikian: "Saya belum bisa jawab karena memang saya harus meminta persetujuan semua ketum partai sementara ketum yang ada saat ini enggak lengkap. Ada yang berada di luar negeri. Ada yang minta jawabnya nanti," kata Romi menirukan ucapan Jokowi. 

Romi sebelumnya menyatakan alasan utama Presiden Jokowi menggandeng Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto untuk menjadi cawapres ialah demi menjaga persatuan nasional. 

Ia mengungkapkan, saat menawari Prabowo sebagai cawapres, Jokowi berkaca pada Pilkada DKI Jakarta yang dipenuhi ketegangan dan berpotensi memicu konflik. 

"Beliau menyampaikan, bayangkan gaduhnya republik ini. DKI Jakarta saja yang satu provinsi luar biasa gaung perbedaannya. Kemudian intoleransi meningkat dengan simpul-simpul agama," katanya.

Jika Jokowi-Prabowo head-to-head, maka suasana Indonesia mirip saat jelang Pilkada DKI Anies-Sandi lawan Ahok-Djarot.

Ini Kata Pihak Gerindra

Wakil Sekjen Partai Gerindra Andre Rosiade mengakui, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berpeluang besar menjadi presiden di 2024. Peluang itu terbuka apabila Prabowo mau menerima tawaran untuk menjadi calon wakil presiden Joko Widodo di pilpres 2019. 

"Kalau ambisi pribadi, beliau terima saja lah jadi cawapres Jokowi. Lima tahun lagi jadi Presiden kan. Karena seluruh survei, kalau Jokowi Prabowo bersatu, selesai itu barang," kata Andre kepada Kompas.com, Sabtu (14/4/2018). 

Namun, Andre menegaskan bahwa Prabowo ingin menjadi Presiden bukan karena ambisi pribadi. Menurut dia, Prabowo ingin maju sebagai capres karena gelisah dengan kondisi masyarakat yang ekonominya makin sulit saat ini. 

"Kalau ambisi pribadi, cari aman saja, ikut Pak Jokowi, duit enggak keluar, duduk jadi wapres, abis itu jadi Presiden. Tapi bukan karena ambisi," tegas Andre. 

Oleh karena itu, lanjut Andre, Prabowo langsung menolak dengan tegas saat Jokowi menawarkan dirinya menjadi cawapres. Andre pun membantah Prabowo pernah mengirim utusan ke Istana untuk menanyakan apakah tawaran posisi cawapres masih berlaku. 

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy alias Romi mengungkapkan, Jokowi sempat menanyakan pendapatnya jika ia menggandeng Prabowo sebagai cawapres pada Pilpres 2019. 

Romi mengaku menyambut baik ide Jokowi tersebut. Prabowo, kata Romi, juga mengapresiasi tawaran Jokowi. Romi mengungkapkan, saat itu Prabowo merasa terhormat karena mendapatkan tawaran dari Jokowi untuk menjadi cawapres. 

Ia mengatakan, dua pekan yang lalu, Prabowo mengirim utusan ke Jokowi untuk menanyakan kelanjutan tawaran cawapres. Namun, kata Romi, Jokowi belum bisa menjawab karena masih harus mendengar masukan dari semua ketua umum parpol yang beberapa di antaranya masih berada di luar negeri atau masih disibukkan urusan partai. (*)



BERITA LAINNYA :