Ekbis

PSI Paparkan Utang Indonesia yang Benar, Seperti Ini...

Editor : Damar Pamungkas |Sabtu , 14 April 2018 - 14:07:12 WIB | Dibaca : 950 Kali |

Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi dan Bisnis, Rizal Calvary

@IRNews | Jakarta - Kualitas utang Indonesia kembali dinilai lembaga pemeringkat Moody's Investor Service (Moody's). Hasilnya: Ada peningkatan Sovereign Credit Rating (SCR) Republik Indonesia dari Baa3/Outlook Positif menjadi Baa2/Outlook Stabil pekan ini.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengatakan, kenaikan tersebut membuktikan Pemerintah dan Bank Indonesia sangat kredibel mengelola utang.

"Ini menjadi bukti bahwa Presiden Jokowi kredibel dan pruden dalam mengelola utang," ujar Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi dan Bisnis, Rizal Calvary M dalam keterangannya, Sabtu (14/4/2018).

Rizal mengatakan, kenaikan tersebut merupakan cerminan kredibilitas penyelenggara kebijakan terkait utang dan efektif mendorong stabilitas makro ekonomi.

"Ini yang menilai positif Moody's, bukan kami, bahwa pemerintahan sebelumnya sampai pemerintahan Jokowi-JK mampu menjaga defisit fiskal di bawah batas 3 persen sejak 2003. Defisit dapat dipertahankan di level rendah dan didukung oleh pembiayaan yang bersifat jangka panjang dapat menjaga beban utang tetap rendah sehingga mengurangi kebutuhan dan risiko pembiayaan," ucap Rizal.

Selain pemerintah, PSI juga mengapresiasi kinerja Bank Indonesia (BI).

Bank Indonesia mampu menjalankan tugasnya di wilayah moneter sehingga stabilitas makro ekonomi terjaga dengan baik.

"Ada kebijakan nilai tukar yang fleksibel, berkat kerja sama yang cantik antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan BI, inflasi terjaga di level yang cukup rendah dan stabil," ujar Rizal.

Sebelumnya, Moody's juga memperbaiki outlook SCR Republik Indonesia dari Stable menjadi Positive, sekaligus mengafirmasi rating pada Baa3 (Investment Grade) pada 8 Februari 2017.

PSI menilai, saat ini kondisi keseimbangan primer atau primary balance Indonesia, terus membaik.

"Memang dalam primary balance, pendapatan dengan pengeluaran pemerintah masih defisit. Defisit itu biasa, hanya sedikit negara yang enggak defisit, sehingga pemerintah mencari utangan untuk menutupi itu. Yang penting kondisinya terus membaik dan terkelola dengan baik," papar Rizal.

Sebagaimana diketahui, sebagian besar negara mengalami defisit anggaran.

Negara seperti China mengalami defisit anggaran 2,74 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Lalu India sebesar 7,1 persen PDB, sedangkan Malaysia 3,03 persen PDB.

Negara berkembang seperti Vietnam mengalami defisit anggaran hingga 6,5 persen PDB, Polandia 2,9 persen PDB, Argentina 7,3 PDB, sedangkan Kolombia 2,84 persen PDB.

"Jadi defisit kita aman 3 persenan. Bahkan Qatar negara kaya minyak defisit sampai 10 persen. Norwegia 5 persen, Brasil 10 persen," kata Rizal.

Menurut Rizal, saat ini banyak pihak melihat utang dari nominalnya saja.

"Ini cara pandang yang sesat, tidak melihat utang dari progresifitas dan kapasitas ekonomi. Ini seperti anak SD melihat utang ayahnya atau utang perusahaan ayahnya. Kaget-kaget dia. Jadi, ukurannya adalah PDB," ujarnya. (*)





BERITA LAINNYA :