Hukum & Kriminal

Awas... Data Kartu Kredit Anda Bisa Dibobol, Begini Caranya...

Editor : Damar Pamungkas | Reporter : Hadi Ismanto |Selasa , 17 April 2018 - 14:25:45 WIB | Dibaca : 1266 Kali |

Ilustrasi

IRNews | Jakarta - Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menangkap empat pembobol kartu kredit dengan data nasabah curian. Mereka yang ditangkap di Sumatera Selatan tersebut memiliki dua modus pembobolan. 

Keempat pelaku tersebut adalah IS yang merupakan pemilik situs temanmarketing.com dan penjual data nasabah. IS mendapat data nasabah itu dengan cara membeli dari situs-situs lain yang kini sudah diblokir.

Sementara itu ketiga pelaku lainnya NM, TA dan AN sebagai eksekutor untuk melakukan pembobolan rekening dari data yang mereka dapat dari IS. 

Panit 2 Unit 2 Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKP Abdul Rahman mengatakan dua modus yang dilakukan oleh NM, TA, dan AN dengan berpura-pura sebagai nasabah bank atau berpura-pura menjadi petugas bank. 

Modus tersebut dimulai dari mendapatkan data nasabah yang dibeli oleh IS di situs temanmarketing.com. 

"Si IS itu yang jual (data nasabah) ke pelaku melalui web temanmarketing.com. Si IS dapat (data nasabah) awalnya dulu, dua tahun lalu, dia browsing-browsing di internet, dapatlah namanya dari forum (situs), diambil di situ lalu dibeli," kata Abdul kepada wartawan, Selasa (17/4).

"Setelah itu dia pasarin lagi, dia beli cuma sekali kemudian dia pasarin bisa jual berkali-kali," ujarnya.

Abdul mengatakan, NM, TA, dan AN menghubungi IS untuk memperoleh data nasabah tersebut melalui aplikasi percakapan WhatsApp. Mereka membeli data nasabah dari IS.

Kemudian NM, TA dan AN yang sudah mendapatkan data berpura-pura menjadi nasabah. Mereka kemudian menghubungi call center bank tertentu dan meminta supaya dibuatkan kartu kredit yang baru. 

Para pelaku ini tidak kesulitan ketika ditanyai pihak bank mengenai verifikasi data nasabah karena sudah memilikinya. Dengan alasan kerusakan dan lain-lain, mereka meminta pergantian kartu kredit dengan baru dan mengirimnya ke alamat mereka. Pihak bank pun mengirim kartu kredit baru karena data yang dikonfirmasi benar semua dan terverifikasi.

"Dia ganti nomor handphone-nya, dia ganti nomor HP yang ada di bank kemudian dia kirim ke alamat yang baru. Karena sudah lulus verifikasi oleh bank, tempat tanggal lahir dapat semua lalu di ACC permohonan kartu barunya oleh pihak bank. Setelah itu diproses oleh bank dikirim ke alamat yang ditentukan," tuturnya. 

Modus kedua, Abdul mengatakan ketiga orang tersebut juga berpura-pura menjadi petugas bank. Dari data yang sudah didapatkan, mereka menghubungi nasabah dan meminta supaya kartu kredit mereka diblokir karena terjadi transaksi yang mencurigakan. 

Awalnya, mereka akan menelepon nasabah yang menjadi sasaran. Kemudian, mereka mengkonfirmasi apakah nasabah telah melakukan satu transaksi. Saat terjadi bantahan dari nasabah, pelaku akan meminta supaya kartu kredit milik nasabah tersebut diblokir. 

"Mereka akan menelepon korban bahwa ada transaksi yang mencurigakan di kartu kredit korban, mengatakan apakah benar transaksi tersebut dan meminta supaya kartu diblokir. Mereka akan bilang jika mau diblokir tolong serahkan nomor OTT tiga digit terakhir dan tanggal kadaluwarsa kartu, setelah itu diserahkan meraka akan bertransaksi melalui online," tuturnya. 

Abdul mengatakan sindikat seperti itu memang biasa terjadi dan mudah untuk dilakukan. Maka itu, menurutnya, jika nasabah bank mendapatkan telepon terkait masalah kartu kredit sebaiknya dilakukan kroscek ke call center bank tertentu. 

Setidaknya terdapat 20 korban dari sindikat ini. Mereka telah meraup keuntungan kurang lebih Rp200 juta dengan membobol rekening nasabah. 

Keempat pelaku disangkakan Pasal 378 KUHP dan atau 362 KUHP dengan ancaman ukuman maksimal lima tahun penjara. Namun pasal berlapis dikenakan kepada NM atas kepemilikan senjata api. NM pun dijerat dengan Pasal 1 Ayat 1 UU Darurat no 12 tahun 1951. (*)



BERITA LAINNYA :