Metropolitan

Kronologi Kematian Bocah di Sembako Maut versi Ayahnya

Editor : Damar Pamungkas |Sabtu , 05 Mei 2018 - 16:17:53 WIB | Dibaca : 986 Kali |

Djunaedi, ayah Mahesa setelah memberikan keterangan di Polda Metro Jaya, Sabtu (5/5/2018)

@IRNews | Jakarta - Ayah bekerja, ibu berobat. Anak mereka, Mahesa mati saat berdesakan antre bagi-bagi sembako di Monas. Itulah keterangan ayah Mahesa, ke polisi.

Djunaedi, ayah dari Mahesa (13) salah satu korban tewas saat ada acara bagi-bagi sembako di Monas, menceritakan kronologi kejadian ke Polda Metro Jaya. Menurut Djunaedi, anaknya berangkat bersama temannya bernama Akmal, saat itu.

"Saya memenuhi panggilan polisi aja untuk membeberkan kronologi," kata Djunaedi di Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5/2018).

Mahesa, kata Djuanedi, tidak mendapatkan kupon pembagian sembako di Monas. Namun, Mahesa saat itu berangkat bersama sahabatnya, Akmal.

"Di sana, anak saya dapat makan oleh panitia kata orang tua Akmal. Saat di Monas, dia pegang-pegangan tangan sama Akmal. Terus, Akmal terjatuh terus pisah," tutur Djunaedi.

Djuanedi bercerita dirinya sempat mengantar istrinya ke Stasiun Kota untuk berobat ke RS Pelni, Petamburan, Jakarta Barat. Dia berangkat dari rumah di Tanjung Priok, Jakarta Utara, sekitar pukul 06.30, Sabtu (28/4/2018). 

Dia balik pulang dan tiba di rumah pukul 08.30. Lantas, dia bersiap berangkat kerja sebagai sopir perusahaan swasta di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sebelum berangkat kerja, dia berpesan kepada Mahesa agar tidak ke mana-mana setelah itu. Djunaedi berangkat kerja.

"Jam 3 (15.00 WIB) istri saya calling saya, dia sudah balik di rumah. Terus dia tanya anak ke mana?. Saya jawab, mungkin main. Saya lanjut kerja," lanjut Djunaedi.

Satu jam kemudian, Djunaedi kembali ditelepon istrinya. Waktu itu istrinya mengabari kalau Mahesa hilang di Monas.

Dia lantas bertanya ke istrinya, informasi itu didapat dari mana. Istrinya mengatakan, kata Djunaedi, dia dikabari oleh Akmal, sahabat Mahesa.

"Anak saya biasa dipanggil sosis di rumah. Akmal bilang 'Mama Sosis, Sosis sudah pulang? Tadi berpisah di Monas. Dia lalu ke Monas'. Saya berangkat dari Kelapa Gading ke Monas, istri saya sudah di sana. Di depan pintu Monas ketemu sama istri," kata Djunaedi.

Dia, istrinya, dan 3 keponakannya lalu berpencar mencari Mahesa. Mereka berkeliling dan bertanya ke panitia.

Hingga akhirnya pukul 21.00 WIB, pihak panitia mengabari Djunaedi bahwa ada petugas Satpol PP yang menemukan seorang anak. Dia lalu diarahkan ke RS Tarakan.

"Saya tanya ke petugas kepolisian, ini kenapa? Mengeluarkan darah dari hidung? Katanya nanti bapak dipanggil pihak dokter yang nanganin. Menurut versi dokter, anak saya masuk ke Rumah Sakit Tarakan jam setengah empat sore sudah tidak sadarkan diri," tutur Djunaedi.

Dokter kemudian menawarkan untuk autopsi. Namun Djunaedi menolaknya.

"Menurut petugas Satpol PP ditemukan di luar (Monas) lalu saya tanya kenapa hidungnya keluar darah? Karena suhu badannya tinggi, suhu badannya sekitar 40 derajat (celcius). Suhu badan naik dan dia tidak sadarkan diri trus kejang-kejang. Pukul 19.40 WIB anak saya sudah tidak ada. Pembuluh darah pecah karena panas tinggi dan dehidrasi juga," kata Djunaedi. (*)



BERITA LAINNYA :