Nasional

Inilah Rahasia Hubungan Jokowi-Ahok, Diungkap oleh Ahok

Editor : Damar Pamungkas |Selasa , 08 Mei 2018 - 17:34:24 WIB | Dibaca : 4452 Kali |

Jokowi Ahok. Foto: Dok Teman Ahok

@IRNews | Jakarta - Ahok masih jadi selebritis. Yang terbaru, Ahok dikunjungi penggiat medsos Denny Siregar, Permadi Arya atau Abu Janda, Eko Kuntadhi, Birgaldo Sinaga, dan desainer sepatu Niluh Djelantik. Di situ terungkap rahasia.

Kelima pengunjung Ahok ini mengungjungi Ahok di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jumat (4/5/2018).

Obrolan Ahok dengan lima pendukungnya ini terungkap dari postingan Eko Kuntadhi. Dipaparkan, kondisi terbaru Ahok kini lebih gemuk dan kulitnya memerah.

"Sekarang udah hitaman lagi. Kalau musim hujan, gue putihan. Karena jarang olahraga di luar," kata Ahok dari postingan Eko Kuntadhi.

Pada kesempatan itu pula, kelimanya turut meminta pendapat Ahok terkait kondisi politik di Indonesia saat ini, termasuk soal Jokowi.

Pada akhir pertemuan, Ahok menuliskan pesan kepada Ahokes pada sebuah kertas. Intinya, Ahok menyerukan agar Ahokers tidak golput.

"TIDAK BOLEH GOLPUT, TETAP PILIH AHOK & Sahabatnya," tulis Ahok seraya membubuhkan tanda tangan.

Lantas, siapa yang dimaksud sahabat Ahok? Pertanyaan ini terjawab dari beberapa kalimat dalam postingan Eko Kuntadhi berikut:

Ahok mengatakan: "Jika gue ditanya siapa sahabat gue, gue akan jawab: Jokowi. Gue yakin Jokowi juga akan menyebut nama gue ketika ditanya hal yang sama."

"Pak Jokowi itu pemimpin yang bagus. Dia gak pernah menyalahgunakan kekuasaanya untuk kepentingan sendiri. Makanya gue juga ikhlas," lanjutnya.

Berikut postingan Eko Kuntadhi selengkapnya. Ditulis dalam gaya bertutur Eko Kuntadhi:

Benar saja, pertemuan dengan Ahok siang tadi banyak dihiasi dengan guyon. Obrolan ringan dan ceplas ceplos. Saling ledek dan menertawakan keadaan. Seperti bertemu teman lama.

Sebelum pertemuan, kami semua sepakat nanti jangan pernah menyinggung persoalan pribadi Ahok. Menurut kami, itu akan membuat obrolan jadi gak enak.

"Gimana kabarnya, Pak Ahok? Semakin sehat keliatannya," ujar Permadi Arya, membuka pembicaraan.

"Lu gak liat gue seger begini? Duda kan harus selalu ceria" jawab Ahok spontan. Kami semua tertawa mendengar jawaban itu.

"Pak Ahok, tadi kami sepakat gak mau omongin soal masalah pribadi. Eh, malah Pak Ahok yang bicara duluan. Hahahahhaha...," Denny Siregar gak tahan untuk diam.

Melihat Ahok siang itu, ada sedikit perubahan dibanding beberapa bulan lalu. Badannya lebih gemuk, mungkin naik sekitar 5 kiloan. Kulitnya memerah karena terjemur matahari.

Ahok mengatakan: "Sekarang udah hitaman lagi. Kalau musim hujan, gue putihan. Karena jarang olahraga di luar."

"Kalau badan makin gemuk, kayaknya udah kerasan di sini, Pak?," sambung saya.

"Lha, kerjaan gue di sini ngapain? Makan, baca buku, nulis, tidur. Gimana gak gemuk?"

Lalu obrolan mengalir. Ahok berkali-kali bicara jika kembali ke masyarakat nanti, dia lebih suka menggunakan nama Basuki.

"Ahok akan jadi brand aja. Misalnya, jadi mata acara Ahok Show," ujarnya.

Birgaldo Sinaga mulai membuka obrolan nyerempet-nyerempet politik. Bahkan menanyakan perasaan Ahok mengenai Jokowi.

"Kita ingin tahu perasaan terdalam Pak Ahok tentang Pak Jokowi," tanyanya.

Semua kemudian terdiam. Kami semua seperti menunggu apa reaksi mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Kemudian Ahok mengatakan: "Jika gue ditanya siapa sahabat gue, gue akan jawab : Jokowi. Gue yakin Jokowi juga akan menyebut nama gue ketika ditanya hal yang sama."

Kata-kata itu disampaikan dengan cepat. Tadinya mungkin kita menyangka ada nada kekecewaan dalam jawaban Ahok. Nyata sama sekali gak tergambar.

Lanjut Ahok: "Pak Jokowi itu pemimpin yang bagus. Dia gak pernah menyalahgunakan kekuasaanya untuk kepentingan sendiri. Makanya gue juga ikhlas."

"Maksudnya, pak?"

Ahok menjawab: "Dalam politik susah mencari sahabat sehati. Kebanyakan hanya berorientasi kepentingan. Bagi gue, Jokowi itu seorang sahabat. Dia tulus. Makanya kita harus memahami posisi masing-masing. Itulah arti sahabat"

Di mata saya, Ahok seperti ingin mengatakan, meskipun sedang menghadapi suasana yang tidak menyenangkan, dia sama sekali tidak kehilangan kepercayaan dengan sahabatnya.

Apa yang dialami Ahok, akibat dari kedegilan politik telah merusak sendi-sendi keadilan negeri ini. Meski telah ditetapkan bersalah oleh pengadilan, di mata saya Ahok hanyalah korban dari kedegilan itu. Keadaan memang tidak berpihak kepadanya.

Ahok mengatakan: "Kalaupun gue gak ngomong di Pulau Seribu, akan dicari juga masalah lain. Gue akan diobok-obok terus."

Ahok selalu meyakini persahabatannya dengan Jokowi tidak pernah terganggu dengan hingar bingar suasana politik. Meski keduanya kini ada dalam posisi berbeda, tapi mereka jalani semua dengan perasaan yang jembar. "Kalau sahabat kita sedang menjalankan amanah buat bangsa, kita jangan ngegerecokin."

Saya melirik mbok Niluh Djelantik yang sedari tadi duduk di sebelah Ahok. Matanya sedikit memerah. Rupanya kata-kata Ahok mengenai arti persahabatan sangat menyentuhnya. 

Soal komitmen persahabatan dikukuhkan oleh seorang pesakitan kepada sahabatnya yang sedang duduk di posisi tertinggi pemerintahan. Dan itu semua tidak membuat Ahok kehilangan kepercayaan.

Niluh Djelantik berbisik ke saya: "Saya makin respek pada keduanya. Pak Ahok dan Pak Jokowi. Betapa indah persahabatan mereka. Betapa beratnya ujiannya. Tapi mereka tetap yakin satu sama lainnya." bisiknya pelan.

Setelah beberapa teman meminta sedikit oret-oretan Ahok sebagai kenang-kenangan, kami pun pamit pulang. Ahok bangkit, berdiri di dekat pintu menyalami kami satu-satu.

Sore hari, ketika berjalan pulang dari Mako Brimob, kami memdengar berita soal SP3 Rizieq yang dikeluarkan Polda Jabar.

Atas berita itu, ada Ahoker yang marah dan kecewa. Mereka beranggapan kondisi ini wujud ketidakadilan. Ahok di penjara. Sementara Rizieq dapat SP3.

Sialnya, ada sebagian orang yang menyalahkan Jokowi. Ujung-ujungnya malah menyerukan Golput karena kekecewaanya itu. Bagi saya itu adalah cara berfikir ngawur.

Anggapan bahwa kasus SP3 Rizieq bisa dihubung-hubungkan dengan Jokowi, sama saja berasumsi bahwa Presiden bisa sembarangan masuk ke wilayah hukum.

Itu tandanya mereka sama sekali tidak mengerti bagaimana selama ini Jokowi menjalankan kekuasaan.

Kekecewaan pada Jokowi karena dianggap membiarkan SP3 Rizieq kekuar, sesungguhnya juga semacam pikiran bahwa Presiden bisa mengintervensi kasus hukum. 

Justru jika Jokowi melakukan itu dalam menjalani kekuasaanya, saya adalah orang pertama yang kecewa. Kekuasaan yang berdiri di atas hukum, bagi saya amat tidak menarik untuk dibela.

Saya merasa penting untuk terus berdiri di belakang Jokowi, justru ketika dia sama sekali tidak menggunakan kekuasaanya untuk mencari keuntungan politik.

Jokowi konsisten menjalankan fungsi-fungsi kekuasaan. Dia berjalan di jalur eksekutif. Sementara jalur yudikatif dibiarkan punya otoritas sendiri. 

Jadi, jikapun polisi mengeluarkan SP3 buat Rizieq dalam salah satu kasusnya, saya memandangnya itu murni soal teknis hukum dan penyidikan. Tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kekuasaan Presiden.

Kita bisa membangun fikiran begini. Kasus Penistaan Pancasila yan terjadi pada 2011 dan baru dilaporkan pada 2016. Bukti laporan yang dibawa hanya potongan video ceramah Rizieq. 

Padahal semua tahu, sebagai barang bukti diperkukan video asli. Jika tidak ada, potongan video itu tidak ada harganya sama sekali di mata hukum.

Nah, jika barang bukti yang disodorkan gak kuat, apakah bila polisi tetap ngotot meneruskan kasus ini tidak malah merugikan secara hukum? Bukankah di tangan polisi sekarang ada 8 kasus lain berkenaan dengan Rizieq?

Ada teman bertanya, "Apakah sedang terjadi ketidakadilan kepada Ahok. Dia dihukum sementara orang yang begitu membencinya dapat SP3? Buni Yani juga tidak dipenjara."

Jawaban saya jelas, hukum memang tidak berlaku adil kepada Ahok. Sebagaimana hukum kita belum bisa berbuat adil ke rakyat.

Tapi ketidakadilan itu jauh dari jangkauan kekuasaan seorang Prasiden. Hukum berjalan di relnya sendiri, politik berjalan di tol yang beda lagi.

Suatu keanehan jika kekecewaan kita pada ketudakadilan hukum, terlontar menjadi ajakan politis. Sok menghubung-hubungan dengam kekuasaan. Apalagi sampai Golput.

Kalau orang yang tadinya pendukung Ahok lantas mau Golput. Atau beralih jadi mendukung Anies Baswedan, itu silakan saja. Ini negara demokrasi. Atau Anda beralih mau jadi aktifis PKS atau FPI, monggo. Gak ada yang larang.

Tapi menggunakan alasan keluarnya SP3 Rizieq sebagai dasar, itu sama saja menunjukan kekonyolan. Apalagi berkoar-koar di medsos, menumpahkan kekecewaan berlebihan. Bahkan mengkait-kaitkan dengan Jokowi segala.

Anda seperti ingin memperhadapkan dua orang sehabat. Padahal perhabatan mereka sudah teruji waktu. Dan keduanya juga bukan anak kemarin sore dalam politik. Keduanya juga bukan orang naif yang saling memanfaatkan. Sahabat jauh dari sikap seperti itu.

"Jika saya ditanya siapa sahabat saya dalam politik. Jawabnya : Jokowi!," ujar Ahok siang itu.

Sama kalau orang bertanya ke saya, siapa sahabat yang menyebalkan tapi bikin kangen? Jawabnya juga jelas : Abu Kumkum!

"Kalau Rizieq dapat SP3, saya juga dulu waktu sekolah sering nunggak SPP, mas. Biasa aja. Gak ada yang ngajak Golput, tuh," ujar Abu Kumkum.,"

Kapan sih Ahok bakal keluar dari penjara?

Dilansir BBC pada berita yang terbit 19 Desember 2017 berjudul 'Ahok bisa bebas pertengahan tahun depan', mantan Gubernur DKI Jakarta itu bisa bebas pertengahan 2018, ini karena Ahok mendapatkan remisi Natal dan 17 Agustus, plus ketentuan menjalani dua pertiga hukuman, kata pengacaranya, I Wayan Sudirta.

Ia menjelaskan, dalam Keppres itu, remisi khusus, minimum 15 hari diberikan kepada narapidana yang merayakan hari besar keagamaan dan sudah menjalankan hukuman setidaknya selama enam bulan.

Remisi umum ini syaratnya, sudah menjalani satu tahun penjara. Karenanya, pada 17 Agustus lalu, kendati sebagian terpidana kasus korupsi dan terorisme mendapat pengurangan hukuman, Ahok tidak mendapatkannya.

Karena Ahok baru masuk penjara pada 9 Mei, 2017, pada hari ia divonis dua tahun penjara untuk dakwaan penodaan agama.

"Nanti 17 Agustus 2018, kalau untuk satu dan lain hal pak Ahok masih dipenjara, ia akan mendapat remisi, kemungkinan dua bulan, lagi-lagi berdasar Keppres tahun 1999 itu," kata I Wayan Sidarta pula.

Selain itu, menurutnya Ahok masih bisa mendapat remisi lain.

"Misalnya karena di penjara berkelakuan baik, berjasa bagi negara, melakukan hal-hal yang berguna bagi sesama napi, dll."

Terlepas dari itu, ada pula ketentuan tentang pembebasan bersyarat setelah menjalani dua pertiga masa hukuman.

Dalam hitungan kasar, di luar remisi, Ahok akan sudah menjalani dua pertiga masa hukuman pada September 2018 nanti.

Namun dengan remisi Natal 15 hari, plus remisi umum hari kemerdekaan, maka Ahok bisa bebas setidaknya pada 17 Agustus nanti.

Ahok dijatuhi hukuman dua tahun penjara setelah dinayatakan terbukti bersalah untuk dakwaan penodaan agama terkait sebuah pidatonya di Pulau Seribu, yang menyebut bahwa jika ada yang "dibohongi pakai Al Maidah" memutuskan untuk tidak memilihnya dalam Pilkada, ia tak keberatan. (*)



BERITA LAINNYA :