Nasional

Ciri Teroris Ogah Sholat di Masjid, Ini Jawabannya...

Editor : Damar Pamungkas |Jumat , 18 Mei 2018 - 15:48:30 WIB | Dibaca : 2282 Kali |

Sofyan Tsauri

@IRNews | Jakarta - Bagaimana cara menghindari pergaulan dengan teroris? Apa ciri-ciri fisik teroris? Bagaimana cara mereka menyebarkan indoktrinasi radikal terorisme?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jadi gunjingan masyarakat sekarang. Setelah maraknya terorisme di Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan Pekanbaru. 

Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, mantan teroris Al Qaeda, Sofyan Tsauri memberikan pandangannya tentang ciri-ciri teroris. Sofyan Tsauri adalah mantan polisi berpangkat Brigadir yang mengundurkan diri, lalu jadi teroris. Dia sudah menjalani hukuman 6 tahun.

Dalam acara Pagi-Pagi Pasti Happy edisi 18 Mei 2018, Sofyan menjelaskan beberapa ciri individu yang patut diwaspadai.

1. Tidak bisa dinilai dari segi fisik

Menurut Sofyan, teroris tidak bisa dinilai dari segi fisik. Misalnya, dari model pakaian atau berjenggot.

Apabila masyarakat terus menilai dari segi fisik, maka akan muncul persekusi dan kegaduhan di Indonesia.

2. Tidak mau sholat di masjid

Salah satu keanehan para calon teroris adalah tidak mau sholat di masjid. Padahal di satu sisi, mereka berbicara tentang kebenaran dan keIslaman.

"Kita bisa tanya sama dia. Kenapa tidak mau sholat di masjid? Nanti dia akan menjawab: Masjidnya imamnya tidak jelas aqidahnya. Masjidnya banyak bida'ahnya," ujar Sofyan.

Bagi Sofyan, kata-kata itu menjadi indikasi bahwa orang tersebut belajar agama namun malah membenci lingkungan. Bahkan membenci masjid.

3. Pelit menjawab salam

Sofyan menuturkan, sosok yang sudah terpapar paham radikal biasanya pelit menjawab salam.

Apalagi terhadap orang yang menurut mereka tidak diketahui agama dan pemikirannya.

Mereka juga akan melepaskan diri dan menjauh apabila pandangannya tidak sama dengan orang yang diajak berdiskusi.

"Biasanya orang seperti itu kita tanya, 'Assalamualaikum!' Dia tidak mau menjawab salam kita. Karena dia sudah nggak suka. Padahal menjawab salam itu wajib," kata Sofyan.

4. Profesi yang mudah terpapar paham radikal

Berdasarkan kajian, Sofyan mengatakan bahwa orang eksakta lebih mudah terpapar paham radikal daripada orang dari ilmu sosial.

"Penyanyi, penulis, sastrawan itu lebih mempunyai daya imunitas terhadap pemikiran-pemikiran radikal," katanya.

Sofyan mencontohkan bahwa polisi seperti dirinya sekalipun bisa terkena paham radikal.

Selain dari kalangan tersebut, Sofyan juga membenarkan bahwa paham radikal sudah masuk ke kampus-kampus.

Dari doktrin yang disebarkan di kampus, muncullah bibit-bibit yang bisa menjadi teroris suatu saat nanti.

"Kita lihat gejala-gejala ini banyak ya. Di kampus-kampus. Mereka banyak mendoktrin. Doktrin ini bukan dalil. Kadang mereka intoleran terhadap pendapat-pendapat yang lain. Inilah sifat dasarnya. Tanpa sadar, mereka menjadi teroris," kata Sofyan.

Siapa Sofyan Tsauri?

Sofyan, saat jadi teroris punya nama teroris Abu Ahyass. Dia ditangkap dan divonis 10 tahun penjara oleh hakim di Pengadilan Negeri Depok pada 2010.

Hidayah turun kepadanya selama mendekam di balik jeruji besi. Ia berintrospeksi diri dan bertanya-tanya, apakah sudah benar jalan yang ia pilih? 

Ternyata dia mendapat isyarat, bahwa perbuatannya selama menjadi teroris adalah keliru. Tanda-tanda itu ia saksikan langsung dengan mata kepalanya sendiri.

Sofyan bergaul dengan sejumlah napi teroris. Dan dari mereka pula ia mulai menyadari kekeliruannya selama ini. 

Ia heran dengan berbagai tingkah laku dan kebiasaan aneh napi teroris, seperti tersebut di atas. (*)



BERITA LAINNYA :